Hati-Hati Dengan Yang Namanya Persepsi

persepsi

Anda pernah dengar kata persepsi? Apa itu persepsi? Dalam kamus besar bahasa Indonesia, ada dua arti tentang persepsi.

  1. tanggapan (penerimaan) langsung dr sesuatu; serapan: perlu diteliti — masyarakat thd alasan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak;
  2. proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya;

Lalu kenapa harus berhati-hati dengan persepsi yang ada di pikiran anda?

(Harap dibaca dengan perlahan dan teliti)

Jarang ada yang tau kalau ada buah bernama “Jangkot”. Mungkin kalau saya ceritakan akan lebih jelas, buah jangkot rasa mirip dengan jeruk nipis, kalau jeruk nipis isinya seperti jeruk, daging buahnya semacam ada gelembung-gelembung air kecil, jalau buah jangkot tidak.

Daging buah jangkot mirip belimbing sayur, yang asam rasanya. Boleh dikata buah jangkot, gabungan antara jeruk nipis dan belimbing.

Rasanya pun sama, asam sekali, kalau diminum sedikit agak kesat di lidah. Jika belimbing diperas tidak banyak airnya, buah jangkot banyak airnya. Warna air perasan jangkot agak keruh dan sedikit kehijauan, mirip air dari jeruk nipis.

Kalau dicium airnya, boleh dikata seperti jeruk nipis, hanya lebih kuat. Asam luar biasa, apalagi rasanya seperti gabungan antar jeruk nipis dengan belimbing. Dapat dibayangkan bagaimana rasa meminum air perasan buah jangkot.

jeruk-nipis

Rasanya ngilu sekali. Ingin merasakan rasanya, coba bayangkan saja jeruk nipis yang baru saja dipetik dari pohon, langsung dibelah dua dan peras masuk ke mulut. Rasa yang luar biasa asamnya. Tentu teman-teman sudah dapat membayangkan rasa buah jangkot.

Terasa air liur keluar di rongga mulut. Tidak semua teman-teman mengeluarkan air liur, tapi beberapa kali kalau saya bercerita banyak teman yang mendengarkan mengeluarkan air liur.

Sebenarnya buah jangkot tidak ada. Itu hanya khayalan saya saja.

Bayangkan buah yang tidak ada saja sudah mengeluarkan air liur. Ternyata tubuh kita ini sangat dipengaruhi oleh pikiran kita.

pikiran-dan-persepsi

Maka ada yang mengatakan bahwa pikiran adalah pemimpin, jika dimulai dengan pikiran tidak baik maka hasilnya tidak baik. Jika dimulai dengan pikiran baik maka kebaikan selalu mengikuti. Keseharian kita hidup dalam persepsi.

Persepsi soal kecantikan, rasa aman, rasa senang, rasa tidak menyenangkan, kaya, miskin, dipuji, dicela, terkenal, ternista.

Persepsi terbentuk tentu dari informasi yang telah kita ketahui. Ketika membaca informasi mengenai buah jangkot secara detail, yang semula tidak tahu akhirnya tahu, pikiran kita langsung membuat persepsi. Terasa dengan tubuh kita menjawab dengan mengeluarkan air liur.

Persepsi ini karena menerima informasi soal buah tersebut. Sekarang kalau kita bayangkan memeras buah jangkot di dalam mulut, pikiran kita tidak akan menjawab dengan mengeluarkan air liur. Karena sudah tahu kalau buah itu tidak ada.

Bukan hanya informasi yang secara sadar kita terima, tapi informasi yang tanpa sadar kita terima juga membentuk persepsi.

Persepsi terbentuk dari pengalaman hidup dari sejak awal kehidupan kita. Persepsi muncul dari infomasi yang kita terima setiap hari, dari koran, internet dan macam-macam. Seringnya kita memasukan informasi sampah dalam diri kita.

Membaca koran soal kejahatan, timbul rasa takut.

Mendengar berita soal kecantikan, merasa wajah saya buruk.

Mungkin suatu saat nanti akan muncul satu penyakit, penyakit kelebihan informasi, yang gejalanya merasa gelisah, takut.

6 atau 9

Ada baiknya mengurangi informasi yang tidak baik yang masuk pada diri kita, sekadar mengurangi beban pikiran. Andaikata persepsi yang muncul selalu baik, tentu hidup akan jauh lebih nyaman.

Andaikata kita bisa memegang, mempengaruhi, menjaga pikiran kita agar tidak muncul persepsi yang salah tentu hidup akan jauh lebih ringan dan damai.

Sekali lagi, sebenarnya buah jangkot tidak ada. Itu hanya imajinasi saya saja. Hanya imajinasi saja sudah terasa, apalagi kalau sungguhan ada.

Untuk menutup artikel ini, saya ingin mengutip nasehat seorang Gede Prama.

Kenapa 1 informasi yang sama bisa ditafsirkan berbeda-beda?

  • Karena sudut pandangnya beda.
  • Karena cara penalarannya beda.
  • Karena operating systemnya beda.
  • Karena pengalaman hidup, kultur, pendidikan, lingkungan, membuat mereka memiliki cara pandang yang berbeda.

Filternya beda, Outputnya beda.

Jika seseorang menyalahkan orang lain, ia perlu belajar.

Jika seseorang menyalahkan diri sendiri, ia mulai belajar.

Jika seseorang berhenti menyalahkan, pembelajaran usai.

benar atau kebenaran

Source

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s